Komentar HUT Ibu Gedong 2018

(Response ke postingnya Tuk Una ttg Perayaan HUT Ibu Gedong dan Gandhi di Candidasa tgl 2//10/2018 yg dihadiri Tuk Una dan Tuk Krish ) ​

Saya bahagia sekali melihat bisa hadirnya dua saudara saya di upacara ulang tahun TK/Ashram/ibu kita Ibu Gedong. Saya muspa/berdoa/ bersyukur ke ISWW atas sweca/pemberiannya dg harapan ini merupakan refleksi dukungan ikhlas dan bulat dari keenam  putra2nya  untuk meneruskan visi dan permintaan terakhir mendiang kepada kita berenam,  dan janji yg kita  berikan sebelum wafatnya, yaitu  untuk meneruskan Ashram kesayangannya di Candidasa seperti yg dijalankan beliau sebelumnya. Semoga Ashram Gandhi kita akan terus jalan menjadi ikon etika, kesederhanaan hidup, anti keserakahan yg dicemaskan beliau di Bali era turisme, beberapa benih2 pemicu lahirnya Ashram, selagi menjalankan tugas sosial nya.

Tantangan eksistensi Ashram yg paling besar bukan external/dari luar sebab kita sudah buktikan dg kerja keras Ashram (dg ‘friends of the ashram’ dan kader2 inti yg juga diwariskan oleh Ibu mendiang) bisa jalan terus self funding/sustaining dg pola social enterprisenya (yg hanya sekarang jadi populer dan mulai menjauhi dari pola traditional NGO yg lebih passive dan lebih tergantung dari dana sumbangan, jadi pola kita lebih active dan lebih cocok ke karma yoga dan swadeshi nya Mahatma Gandhi). Dasarnya dg dukungan ikhlas Ashram akan bisa self supporting tanpa membebani keluarga kita disegi keuangan.
Tantangan besarnya adalah *internal* melalui godaan2  materi dan kepentingan/keuntungan  pribadi sendiri (yg akan selalu ada di kehidupan) di ke enam pewaris tanah *duwe tengah* (untuk dipakai bersama/communal) di Candidasa. Kebijakan dari kita berenam untuk tetap mengatasi godaan2 dan tantangan ini dan tetap bulat dg dukungannya akan menentukan kelanjutannya visi dan misi Ashram sekaligus merayakan kelahiran dan kehidupan Ibu Gedong setiap hari. Perlu ditambahkan juga bahwa secara implikasi ini juga akan merayakan hidup ayah kita I G Bagoes Oka yg sehaluan penuh di komitment social, etika dan spiritualitas nya, dan tanpa chemistry  -dan karma- dari pasangan berdua  istimewa ini, Ibu Gedong tidak akan mencapai prestasi setingginya  dan Ashram Gandhi di Candidasa tidak mungkin lahir. Pasangan mereka adalah contoh classic dimana ‘the whole is more than the sum of the individual parts’.
Ini tanggapan saya selagi langsung teringat keindahan pahit-manis hidup dulu dg kedua mendiang orang tua kita di Singaraja dan Denpasar, yg walaupun waktu ekonomi sangat susah.. mereka mengasuh, dan mendidik kita -dan semeton mingsiki2 kita- dg kasih sayang dan nilai2 mutiara hidup, dan ‘nyupat’/menjadikan kita semua sekarang menjadi ‘berhasil’ dan pada mampu.. kita semua dianugerahi pendidikan dan tantangan2 yg luar biasa. Dengan meneruskan Ashram/legacy perjuangan sosial mereka kita akan meneruskan legacy hidup mereka untuk terus melayani masyarakat, bukan hanya museum atau monumen yg akan pudar dan kurang relevan dg liwatnya waktu.
Ini memang tugas berat tetapi saya yakin kita berenam, dengan doa,  dukungan, saran teman dan para anggota KB Puri Kawan dan Gebagan yg kita hormati, kita akan mampu untuk memenuhi permintaan terakhir ini. Salam Damai, Om Shantih Shantih Shantih Om. Hormat saya, Rudi Bagoes Oka
PS. Maaf baru lihat dan bisa komentar, setelah periode disrupsi dari hp rusak (maaf kpd yg dapat ghost calls tengah malam seperti Dayu Lena) dan kemudian transisi ke hp baru..

 

Advertisements